Terinspirasi dari salah satu 'kuis' berhadiah bingkisan di koran Republika bagi para pembaca setianya, aku tergelitik untuk membuat saudara sepupunya friendster, facebook. Koran 'muslim' tuh mengimbau pada para penulis buat bikin artikel tentang pengalaman mereka dengan facebook yang saat ini orang-orang pada dibikin demam karenanya. Yo demam karena terlalu asyik berhaha-hihi dengan ajang kenarsisannya, hingga bikin mereka betah berjam-jam nongkrong di layar komputer. Kuakui keberadaan fasilitas macam tu memang jadi hiburan khusus bagi mereka-mereka yang dah penat dengan segala aktivitas and permasalahan hidup. Di kantor-kantor, taman, rentalan atau di mana pun orang berada, tak lagi game yang jadi andalan mereka tuk rehat sejenak, melainkan nongkrong di facebook. Komunikasi ngalor-ngidul yang terkadang gak jelas juntrungnya malah bikin layanan itu terasa asyik dan bikin kecanduan. Sepertinya layanan ni sepertinya sudah mulai mengalahkan keasyikan game, tapi belum sanggup mengalahkan 'Tuhan sembilan senti', hehe...
Jauh-jauh sebelumnya tak tertarik tuk membuatnya. Terakhir ada salah seorang sahabat hitam manis yang menyarankanku tuk mencoba, namun hati belum terketuk benar. Padahal dari ajakannya sudah bikin tertarik, lebih banyak diakses orang! Ternyata oh ternyata ember. Aku baru membuatnya sekarang dan tau gak Kawan, suamiku minta dibikinin, hahahaha!
Senin, 23 Februari 2009
Senin, 16 Februari 2009
Minggu, 15 Februari 2009
Too Late



Tanggal 8 februari kemarin, rencana pagi-pagi kami mo ikutan senam pagi yang diadakan pemkot di taman senja. Tapi ternyata kami berangkat skitar jam setengah delapan coz katana senam diadakan jam tujuh. Sesampainya di sana cuma ada beberapa cewex yang lagi nongkrong and dua bapak-bapak yang dah mo go out dari taman. Sejenak kami bertanya-tanya, sudah selesai atau belum mulai atau ga jadi? Kami tanya ma tukang sapu yang lagi bertugas: "Tadi ado orang senam disiko ndak bu? Jawabnya: "Lah". Akhirnya kami turun di tangga dekat sungai: foto-foto. Nich hasilnya...
Sabtu, 07 Februari 2009
Suatu Sore di Taman Senja


Lihatlah diriku yang terlihat samar-samar menatap tenangnya aliran Sungai Tembesi. Sore yang merah. Selang beberapa menit kakiku meninggalkan tempat itu, hujan turun. Hampir tiap sore aku mengunjunginya, menikmati senja yang memerah, bak kapas putih mengiringi langkah sang surya tenggelam tertutup tirai malam. Aku menyebutnya taman senja, meski orang-orang memberi nama Ancol. Bagiku nama itu lebih tepat. Aku yakin jika Kawan berkunjung ke Taman Senja pasti akan bergumam: hmmm... senja yang merah!
Rabu, 04 Februari 2009
Paragraf Perjuangan

Andai melupakan semudah memejamkan mata. Hidup ini akan terasa lebih indah. Namun hati dan pikiranlahlah yang menjadi kuncinya. Ingin sekali aku merasakan amnesia. Lupa akan segala masa lalu. Tapi masa lalulah yang membuatku bertahan hingga sekarang. Aku ingin terus melenggang. Aku ingin bahagia. Tak akan ada yang mengerti dengan apa yang kualami, karena ruh itu ada dalam jiwaku. Tak pernah ada yang tahu mengapa aku menjatuhkan pilihan hidup ini. Aku terus berjuang meski hidup ini terkadang tak seperti yang kuinginkan. Aku ingin bahagiakan semua orang yang pernah atau telah masuk dalam hidupku. Aku tak ingin menyakiti lagi!
Jumat, 23 Januari 2009
Buku Baru (Milik) Bersama

“Apa faedahnya menyekolahkan gadis-gadis? Biar diajar terbang ke langit sekalipun, kalau tidak pandai memasak nasi dan sayur, maka suaminya tidak akan menyenanginya.” Dengan kesal Soendari menanggapi, “Ah,ah, kalau memang demikian watak laki-laki, maka lebih baik dia kawini saja tukang masak Gubenur Jenderal, pastilah setiap hari dia akan makan enak.” (Raden Ayu Siti Soendari, jurnalis Poetri Hindia)
Buku ini adalah dokumentasi seabad perjalanan pers perempuan di Indonesia. Tarikh ini dihitung dari lahirnya Poetri Hindia yang terbit pertama kali pada 1 Juli 1908. Suratkabar yang didirikan Tirto Adhi Soerjo ini menjadi laboratorium sosial bagi lahirnya jurnalis-jurnalis perempuan generasi awal.
Dari biografi seratus pers perempuan inilah kita bisa menimbang kembali pelbagai anggapan lemahnya posisi tawar maupun peran strategis perempuan dalam dunia pers.
Catatan biografi pers perempuan ini menunjukan bahwa dalam kurun waktu yang demikian panjang—dari pembentukan sampai menjadi Indonesia—perempuan memainkan peran, mengambil posisi, dan bertindak di gelanggang politik, ekonomi, pendidikan, dan membangun barikade pertahanan keluarga.
Sebagai wujud dari keterlibatan semua momentum itu, buku ini dikerjakan segelitir perempuan muda dengan cara didaktik dan kronikal, merekam biografi pers-pers perempuan Indonesia dari masa ke masa (1908-2008); dari belpagai daerah, pelbagai organisasi, dan dari pelbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda Melayu, Arab, dan Belanda) yang mewarnai perjalanan sejarah pers Indonesia.
Untuk pemesanan hubungi: 081328690269 (Ria/Jakarta) dan 08886854721 (Nurul/Jogja)
Judul: Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri, et. al.
Penerbit: I:BOEKOE, Desember 2008
Tebal: 406 hlm
Ukuran: 15x24 cm
Harga: Rp 300.000 (hardcover dan hanya dicetak terbatas)
Disc: 20%
Senin, 01 Desember 2008
Kisah Sebuah Jalan
Berkawan dengan lubang,
Lumpur hitam, batu, aliran sungai dan rimba
Menghiasi tapak dua roda
Melintasi tiap ruas jalan Muarabulian-Dusun Tuo
Lalu meneguk jernihnya Air Siau
Melepas dahaga serta kengerian di ujung malam
Tuk kembali pulang
Lumpur hitam, batu, aliran sungai dan rimba
Menghiasi tapak dua roda
Melintasi tiap ruas jalan Muarabulian-Dusun Tuo
Lalu meneguk jernihnya Air Siau
Melepas dahaga serta kengerian di ujung malam
Tuk kembali pulang
Sekumpulan bajing loncat siap menyergap
di akhir perjalanan
Langgan:
Entri (Atom)

